Nama saya Maulidfia Rahmi
Seorang mahasiswa 21 tahun di Universitas Jember
Postingan terakhir 2010 dimana jaman tersebut itu jama alay-alaynya aku yang bertahan sampai 2011..
Hanya bisa tertawa kecil saat melihat foto, video bahkan perilaku yang orang ceritakan padaku saat dahulu
Perubahan yang aku rasakan sampai saat ini aku lebih dewasa. yah wajarlah mestinya juga gitu bahkan itu adalah tuntutan zaman dan usiaku yang sudah berkepala dua.
Sifat yang masih melekat padaku adalah sifat tertutupku, yah aku tidak suka bercerita masalahku lebih detail kepada orang lain karena aku males banget mau cerita, aku lebih suka mendengarkan cerita orang lain :D
Kalau kita mendengarkan ucapan orang lain kita akan tau apa yang dirasakan orang itu. Perasaaan kesal, senang, marah ataupun putus asa. Dan terkadang aku hanya bisa diam tanpa memberi saran apapun karena aku belum ngerasain perasaan seperti itu. Begok banget kan?? Yah,, bertindak diam itu menurutku lebih baik dari pada sok tau sekali. Balik lagi tentang mendengarkan curahan hati seseorang, jujur aku salut sama mereka yang berbagi perasaannya terhadap orang lain yang dipercaya. Tapi kadang aku kesal saat orang itu berbagi perasaannya lewat sosmed. Hello,, sosmed bukan ajang curhat tauk (terus blog ini apa cobak??) *LOL
Setiap orang yang cerita sama aku rata-rata adalah orang yang banyak dibicarakan sama orang lain, kelainan sosial, orang gila (bukan gila yang kayak di tv, tp yang kelainan jiwa karena tertekan), bahkan orang yang orang lain bilang "pantaslah dia masuk neraka".Well, kalau menurutku gak masalah siapapun orangnya, karena aku gak punya masalah sama dia dan dia juga tidak menghindar dariku. Tujuanku bergabung dengan mereka, bukan karena apa, tapi aku hanya ingin menemaninya, atau apa ya? bingung kalau ditanya seperti itu. Teman-temanku hanya butuh pengertian, bukan hujatan. Memang mereka "nakal" tapi mereka juga manusia, kenapa Tuhan masih memberinya hidup? karena Tuhan memberi kesempatan pada mereka untuk mau berubah dari semua pelajaran yang mereka dapat. Terus kenapa kita tidak memberinya maaf juga? Apa pantas bersikap seperti itu? Hhahaha, biarlah Tuhan yang berkata.
Teman-temanku itu sebenarnya adalah orang hebat, tiada yang bodoh. Mereka hanya orang yang lagi tersesat. Merek butuh cahaya bukan api, mereka butuh uluran tangan bukan cacian, mereka butuh kehangatan bukan kekerasan. Aku tidak menyalahkan teman-temanku saat orang disekitarku membicarakanku dengan sinisnya, karena yang aku tau mereka tidak tau aku seperti apa dan apa aja yang aku lakukan. Terkadang temanku juga menjauhiku karena aku tidak ikut-ikutan seperti mereka, aku paham kok, walau awalnya aku kesal tapi aku sadar memang itulah resikonya. Aku sayang sama mereka.
Memang susah banget memberi pengertian pada mereka tentang resiko, masalah sosial bahkan dosa. yang mereka jawab malah "yasudah, yang dosa aku aja, aku juga yang nanggung bukan mereka", "kan masih ada lady gaga, depe, dll yang akan masuk neraka duluan" ataupun "cerewet banget mereka itu". Kadang aku juga males menasehati kalau jawabannya seperti itu lalu yang aku lakukan dengan mengganti topik lain. Yang aku pernah baca seperti ini "orang yang membicarakan kita adalah seseorang bodyguard tanpa bayaran" kalau menurutku kata-kata itu sih kurang pas. Kita sama-sama tau arti bodyguard yaitu seseorang yang melindungi kita dari bahaya, nah orang yang suka gosip itu apa iya melindungin kita dari bahaya gosip? enggak kan? Tapi setelah aku berpikir dua kali emang bener. Bodyguard akan memberi tau tuannya jika ada bahaya mengancam agar tuannya selamat. Secara gak langsung mereka yang mencibir itu memberikan kita masukan dengan cara "kurang baik" agar kita mau berintrospeksi diri. Bercermin jika kita itu sudah seperti itu dimata mereka. Kalau kita memang gak seperti yang mereka bicarain kita hanya perlu diam agar mereka lama-lama ngerti. Sedangkan jika itu seperti tingkah kita, ya jangan cuek juga. Itu malah bagus untuk kita berubah sebelum peringatan dari Yang Kuasa datang dan hanya penyesalan yang akan dirasakan. Iya kalau kita mau besyukur dengan penyesalan itu kalau kita malah mengencam Tuhan dangan perkataan sinis? bahaya kan...
Ini ceritaku :D